Pagi ini saya mulai dengan menggenjot sepeda menuju kampus, sebuah kebiasaan yang sedang saya coba biasakan. Di tengah perjalanan, karena memang belum sarapan, saya mampir di penjual soto yang mangkal taman kecil dekat JEC Yogyakarta. Sembari makan dan mendinginkan badan, saya bertanya-tanya, berapa penghasilan penjual soto ini? Yang jelas tidak besar, mengingat harga soto yang dijual “hanya” Rp 6000. Namun penjual soto tersebut tidak terlihat galau, tetap tersenyum melayani pembeli.

Hal yang sama juga saya jumpai di warung angkringan langganan saya. Penjual di warung tersebut, akrab kami panggil Pak Oke, selalu tersenyum dan tertawa saat melayani pembeli. Padahal, kalau dilihat harga-harga yang ia berikan untuk dagangannya, saya yakin penghasilannya tidak besar. Namun kenapa mereka semua tampak begitu menikmati hidup mereka?

Saya sudah berjumpa banyak orang, dan sebagian besar adalah kolega saya, yang mengeluhkan kecilnya gaji mereka. Padahal, kalau kita lihat, gaji mereka jauh lebih besar dari pedagang soto atau Pak Oke, atau orang lain berpenghasilan “kecil”. Pada kasus yang lebih “ekstrim”, ada kenalan saya yang melakukan penipuan kecil-kecilan untuk mendapatkan uang lebih, padahal lagi-lagi gaji mereka sudah besar.

Pertanyannya sekarang, siapa yang menentukan penghasilan kita itu cukup atau tidak? Jawabannya adalah diri kita sendiri. Ketika kita tidak merasa cukup, maka sebesar apapun gaji yang kita dapatkan, kita akan selalu mau lebih. Dan bila keinginan itu begitu besar, kita bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Kita selalu lupa untuk bersyukur. Ketika kita bersyukur, sekecil apapun penghasilan kita maka kita akan merasa cukup, karena kita percaya bahwa dengan usaha yang kita lakukan, jumlah tersebutlah yang menjadi hak kita. Dengan merasa cukup, kita akan tenang menjalani hidup tanpa banyak mengeluh. Dan kita akan lebih sering tersenyum.