Sudah lebih dari seminggu saya tinggal di Groningen, Belanda, negara kecil yang dulunya menjadi penjajah Indonesia. Agak heran juga kenapa negara yang hanya seluas Jawa Barat ini bisa begitu lama menduduki Tanah Air, tapi itu adalah cerita lain yang mungkin akan coba saya tulis lain waktu. Seperti kebanyakan negara Eropa, Belanda adalah negara maju yang “wah” dari segi fasilitas. Seluruh sistem di negara ini sudah terintegrasi dengan harmonisnya sehingga keteraturan adalah hal yang biasa terlihat.

Saya tinggal di sebuah asrama yang berisi mahasiswa dari berbagai negara, sebut saja Spanyol, Irlandia, UK, USA, Meksiko, Turki, Cina, Jepang, Bulgaria, Italia, Prancis, Iran, dan Saudi Arabia. Benar-benar beragam dengan kebudayaan masing-masing. Suatu hal yang menarik untuk berinteraksi dengan orang dari berbagai negara dengan berbagai latar belakang kebudayaan. Dalam interaksi tersebut ternyata tidak semulus yang saya harapkan.

Budaya Eropa masih kental di asrama saya, terutama masalah konsumsi alkohol. Minuman beralkohol bebas dibeli di sini oleh orang yang berusia 18 tahun ke atas, yang menjadikan para mahasiswa ini bisa membelinya. Dan setiap kegiatan sosial selalu menyajikan minuman tersebut. Tidak ada halangan untuk mengkonsumsinya, bahkan kadang orang yang tidak mengkonsumsinya dapat dianggap sebagai anti-sosial.

Inilah ujian pertama saya di sini. Kalau dipikir, tidak ada yang melarang saya untuk ikut mengkonsumsi minuman beralkohol, tidak seperti ketika di Tanah Air yang cukup ketat pengawasan sosialnya. Namun akhirnya, agamalah yang jadi benteng terakhir saya. Di saat seperti inilah saya bersyukur masih diberi iman oleh Allah, yang menguatkan saya untuk bilang “tidak” ketika ditawari barang haram tersebut. Dan untung saja mereka mengerti ketika saya jelaskan bahwa saya tidak minum alkohol. Bahkan beberapa dari mereka menyediakan soft-drink kalau ada acara sosial sehingga saya tetap bisa berbaur tanpa harus mengkonsumsi minuman beralkohol. Tenggang rasa tersebut terasa cukup manis bagi saya yang merupakan minoritas di sana. Saya juga sempat menjelaskan bahwa saya tidak makan daging babi, sehingga ketika mereka menawarka makanan ke saya, mereka tidak tersinggung ketika saya tanya “itu daging apa”.

Mencoba beragama di lingkungan non-muslim seperti ini ternyata membuat kita lebih mengerti dan mencintai Islam. Ketika pegangan dalam norma sosial tidak ada, agama menjadi benteng terakhir. Di Indonesia yang norma sosialnya sudah sangat banyak dipengaruhi oleh Islam, semua terasa “mudah” dan  ”biasa saja”, sehingga beragama di sana hanya terasa sesuatu yang lumrah dan hanya sebatas kebiasaan. Di sini kebalikannya, agama menjadi kebutuhan. Apabila setiap muslim pernah mencoba menjalankan Islam dalam kondisi minoritas seperti ini, niscaya mereka akan merasakan bagaimana Islam itu memang pembeda baik dan buruk serta merupakan pegangan hidup yang sejati.